Rabu, 20 Mei 2009

Iwan Fals Mendapat Penghargaan


Mendapatkan penghargaan, apalagi didasari prestasi dan dedikasi di bidang musik tentu sangat membanggakan. Terlebih lagi jika penghargaan tersebut bisa memberikan inspirasi kepada generasi selanjutnya. Hal itulah yang dirasakan salah seorang legenda musik Indonesia, Iwan Fals.

Iwan yang baru saja mendapatkan penghargaan "Clas Music Heroes, Talk Less Do More", di Jakarta, Senin (2/3) mengatakan, sebagai seorang musisi tentu ia sangat senang jika ada satu lembaga yang bisa memberikan apresiasi terhadap karya musisi di Indonesia, apalagi bukan didasari sisi bisnis.

"Sebagai musisi saya senang ada lembaga yang mengapresiasi karya saya dan ini menjadi nilai lebih dalam perjalanan musik saya. Tentu saja penghargaan yang saya dapat ini menjadi berat," kata Iwan Fals, saat ditemui di FX Plaza, Jln. Jendral Sudirman, Jakarta Selatan.

Artinya, kata Iwan, lebih berat karena masyarakat telah memilihnya lewat polling SMS. "Saya hanya bisa bersyukur aja lah, otomatis sebagai musisi saya tidak dapat mengabaikan pilihan masyarakat yang telah memilih saya melalui SMS. Jujur ini sangat berat bagi saya sekaligus menjadi tantangan dalam berkarya ke depannya," kata pelantun lagu "Bento" ini.

Dalam ajang penghargaan itu, juri terdiri atas Andy F. Noya (Rolling Stone Indonesia), Anton Wahyudi, Bongki, Dahono Fitrianto, Denny M.R., Ricky Siahaan, dan Yoris Sebastian. Penilaian berdasarkan atas prestasi dan gebrakan mereka selama berkarier. Satu hal yang menjadi titik penilaian, yaitu musik atau musisi yang dipilih bisa memberikan inspirasi bagi generasi muda. Atas dasar itulah, Iwan pun layak dijadikan hero di bidang musik.

Selain Iwan Fals, penghargaan ini juga diberikan kepada Slank, Peterpan, Melly Goeslaw, Krisdayanti, Gigi, Agnes Monica, Ari Lasso, Project Pop, Yovie & Nuno, Andra & The Backbone, Cokelat, Sheila On Seven, Naif, Letto, The Changcuters, dan Efek Rumah Kaca. (sumber: A.Arief/pikiran rakyat 4 maret 2009)***

Puluhan tahun malang melintang di dunia musik Indonesia, Iwan Fals (47) masih suka heran ada orang yang terinspirasi lagu-lagu yang ia tulis dan nyanyikan. Terakhir ada dua penggemar asal Brebes, Jawa Tengah, yang rela jalan kaki hanya untuk menonton konser Iwan di rumahnya di Leuwinanggung, Jawa Barat, Sabtu pekan lalu.

”Namanya Noto dan Slamet. Mereka jalan kaki 13 hari hanya untuk melihat saya nyanyi,” ungkap Iwan di Jakarta, Senin (2/3).

Penggemar Iwan lainnya, Daeng, nekat naik sepeda keliling Indonesia dari tempat asalnya di Sulawesi. Noto, Slamet, dan Daeng sama-sama mengaku melakukan itu semua karena terinspirasi lagu-lagu Iwan Fals.

”Saat ini juga ada 90 cabang Oi (klub penggemar Iwan Fals) yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka bikin perpustakaan, kegiatan olahraga, dan kesenian. Saya kaget, ternyata musik saya bisa berpengaruh sebesar itu,” tutur Iwan yang baru saja menerima penghargaan sebagai Class Music Heroes bersama sederet nama populer di dunia musik Tanah Air lainnya.

Iwan lalu berandai-andai, jika data yang menyebutkan bahwa saat ini ada 40 juta rakyat miskin di Indonesia itu benar, sebenarnya masalah kemiskinan akan selesai kalau setiap orang yang tidak miskin membantu satu orang yang miskin. (sumber: Harian Kompas, Rabu, 4 Maret 2009/DHF) ***

Selasa, 19 Mei 2009

Iwan Fals, Sederhana dan Kharismatik

Ada sesuatu yang menggelitik saya untuk menulis ini. Meski tidak secara pribadi, saya mengenal Iwan Fals sejak awal karirnya, ketika saya masih di SD. Saya bukan penggemar fanatiknya, tapi jika ditanya siapa penyanyi Indonesia favorit saya, jawabannya adalah: Iwan Fals.

Bicara soal Iwan Fals adalah bicara soal sosok yang belum ada duanya di dalam percaturan musik tanah air. Orang menyukainya bukan karena gemerlapnya gaya hidup, kegantengan, atau bahkan teknik vokalnya yang luar biasa. Sebaliknya, Iwan adalah seorang sosok yang sangat bersahaja (mekipun memang ganteng), apa adanya, dan bukan jebolan sekolah vokal mana pun. Ia mengawali karirnya benar-benar dari bawah.

Berangkat dari ngamen, ikut festival lagu-lagu humor (pernah jadi juara), hingga akhirnya menembus dapur rekaman. Itu pun tidak semulus yang kita bayangkan, karena rekaman pertamanya (sebelum Oemar Bakri) sempat jeblok. Pendeknya, Iwan Fals bisa seperti sekarang ini bukan dengan sim salabim. Dia tahu persis getirnya perjuangan untuk mencapai posisi yang saat ini diraihnya sebagai salah satu legenda musik Indonesia.

Salah satu yang saya sukai dari seorang Iwan Fals adalah kejujurannya, baik itu kejujuran dalam menuangkan ide-idenya ke dalam lirik lagu, maupun kejujurannya dalam bersikap. Simak saja bagaimana Iwan Fals mengungkap cinta misalnya.

'..hanya mampu katakan, aku cinta kau saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti,
entah..' (ENTAH)

Di saat kebanyakan lirik lagu berlomba mengobral kata-kata muluk soal cinta, Iwan justru mengungkap cinta dengan cara yang berbeda, tidak munafik. Betapa sederhana, betapa jujur, karena bukankah tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa mencintai seseorang selamanya?

Hal lain yang saya kagumi dari Iwan Fals adalah kharisma. Ini juga muncul dengan sendirinya dan tidak dibuat-buat. Orang yang punya kharisma tentu lain dengan orang yang 'jaim'. Penyanyi Indonesia mana yang memiliki penggemar-penggemar yang berasal dari berbagai kalangan sekaligus? Bahkan usia mereka juga sangat variatif, dari mulai yang seusia dengan Iwan, sampai ABG. Demikian juga status sosial.

Lalu apa sebenarnya yang dimiliki Iwan Fals sehingga ia memiliki nama yang demikian besar? Beberapa sudah saya sebutkan di atas.

*
Kejujuran, terungkap dalam sikap kesehariannya maupun terutama lirik-lirik lagunya. Dan kejujuran ini yang justru menjadi kekuatan dari lirik-lirik lagu Iwan Fals. Dan konsekuensi dari kejujuran ini juga yang dulu sering membuat Iwan berurusan dengan aparat keamanan, ketika lagu-lagunya dianggap 'meresahkan' atau bahkan membuat merah kuping penguasa.
*
Kharismatik. Ini memang sebuah gift dari Tuhan. Orang tidak bisa mereka-reka supaya dirinya kelihatan memiliki kharisma. Di balik sikap yang apa adanya, Ian Fals punya kharisma yang membuat orang segan dan menghormatinya.
*
Sederhana. Pernahkah Anda melihat Iwan Fals tampil 'centil' dan modis? Dari dulu, kostum kegemarannya adalah jeans dan t-shirt.
*
Tidak arogan. Ia bisa ngobrol santai sebagai teman denan penggemarnya. Dulu saya punya teman yang bahkan sering nginep di rumah Iwan. Sikap tidak arogan yang juga bisa kita lihat adalah aksi kolaborasinya dengan musisi-musisi muda. Ia tidak kelihatan canggung dan khawatir dengan kehadiran mereka. Sebaliknya mereka malah dirangkul untuk bikin lagu buat dia nyanyikan. Hasilnya? Ceruk pasarnya malah bertambah ke semakin banyak kalangan, termasuk ABG.
*
Tentu masih banyak hal lain yang membuat Iwan Fals menjadi seperti sekarang ini. Sosok penyanyi/musisi Indonesia yang samasekali bukan karbitan. Ia meraih puncak karir benar-benar merangkak dari bawah. Tempaan itulah yang justru membuatnya bisa seperti sekarang. Berjuang dan menjadi pendekar bagi kalangan grass root melalui lagu-lagunya yang sarat dengan kritik sosial. Contoh fenomenal adalah lagu Oemar Bakri. Saat itu,mana ada yang berani mengangkat tema seperti itu? Atau tengok lagu Bento yang ditujukan untuk 'Kau Tahu Siapa' (minjem istilah Harry Potter untuk menyebut Voldemort), klan penguasa yang nyaris tidak pernah tersentuh hukum.

Ia memotret apa adanya lewat lagu, meski akibatnya kadang-kadang harus berseberangan, bahkan berbenturan dengan penguasa. Tak salah jika majalah Times sempat menjulukinya The Asian Hero. [sumber : http://panjalu.multiply.com] ***

Senin, 18 Mei 2009

SEJARAH LOGO Oi

Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Desa Leuwinanggung No 19, Cimanggis, Depok, Jawa Barat (Kediaman Iwan Fals) pada hari Minggu (15/8/1999) dan Senin (16/8/1999). Setiap peserta maksimal membawa 2 buah karya logo Oi.

Dalam Lomba Desain Logo Oi terpilih 2 Logo Oi karya HiO Ariyanto dari Oi Bento House Solo sebagai Juara I dan II. Penentuan pemenang Lomba Logo Oi sebagai Juara I dan II ditentukan oleh para peserta Peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 melalui polling dan pemilihan oleh semua peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999.

Logo Oi karya HiO Ariyanto yang mendapat Juara I, mulai 16 Agustus 1999 (bertepatan dengan Hari Jadi Oi) dipergunakan sebagai logo resmi Organisasi Penggemar Iwan Fals atau biasa disebut Oi. Selain itu, dalam Silaturahmi Nasional Oi 1999 Lagu “Oi” karya Digo Dzulkifli dari Oi Bandung terpilih sebagai Pemenang Lomba Cipta Lagu Mars Oi. Dan ditetapkan sebagai Lagu Mars Oi.